Saturday, 21 November 2015

Membangun Kemampuan Bersosialisasi Anak

Kusniawati, SPdI

Perkembangan anak meliputi segala perubahan yang terjadi pada anak, baik secara fisik, kognitif, emosi dan psikososial. Kemampuan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya terkait dengan perkembangan psikososialnya. Perlu dipahami bahwa setiap anak berbeda dan unik. Ada yang sulit dan ada yang mudah beradaptasi. Karena itu jika anak sudah cukup usianya, ada baiknya ia disekolahkan di taman kanak-kanak, TKA atau TPA. Namun, jika belum cukup umurnya, sering-seringlah anak diajak ke luar rumah sekalipun hanya di sekitar lingkungan rumahnya untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Sebab, banyaknya teman dan interaksi akan membuatnya mudah belajar tentang perilaku sosial seperti berbagi, berempati, menolong teman, memahami dan mengerti antar sesama teman, serta harus mandiri. Dengan semakin banyak teman, anak pun akan kaya dengan pengalaman. Hal ini berbeda dengan anak seusianya yang jarang berinteraksi dengan teman sebayanya di sekitar rumah; ia akan cenderung menjadi ’raja’ atau ’ratu’ yang harus dilayani, diperhatikan, dan diutamakan. Hal ini akan menghambat perkembangan psikososialnya.

Mengajarkan anak bersosialisasi sebaiknya dilakukan sejak dini. Memperkenalkan anak dengan lingkungan sekitar akan baik untuk perkembangan psikologi anak. Namun perlu Anda sadari, bahwa kemampuan anak bersosialisasi berbeda satu sama lain.

Dalam bersosialisasi, ada yang mudah dan ada juga yang sulit. Meski terkadang sulit, bersosialisasi sangat diperlukan agar anak bisa berinteraksi dengan teman sebayanya. Selain itu, anak juga bisa belajar untuk berbagi dengan temannya.

Anak yang jarang keluar rumah, biasanya akan cenderung egois. Hal ini tentu tidak baik untuk perkembangannya. Terlebih lagi ketika si kecil sudah memasuki usia sekolah. Untuk itulah, sebaiknya ajak si kecil untuk bersosialisasi sejak dini.

Bagi si kecil yang mudah bersosialisasi, Anda tentu tidak perlu khawatir lagi. Dengan kemampuannya, ia akan dengan mudah berbaur dengan teman-temannya meski itu lingkungan baru baginya.

Tapi memang ada pula anak yang memerlukan motivasi saat akan memulai menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Anak dengan tipe ini, biasanya akan malu-malu dan cenderung takut pada awalnya. Namun saat ia sudah mengenal lingkungannya dan mengenal dengan siapa ia bergaul, maka ia akan dengan mudah bersosialisasi. Untuk anak dengan tipe ini, Anda tidak perlu terlalu memaksakannya. Anda hanya perlu memberikannya waktu.

Sementara untuk anak yang sulit bersosialisasi, ia biasanya pemalu dan cenderung takut saat berada di lingkungan baru. Tak jarang mereka akan bersembunyi di balik orangtua atau pengasuhnya saat ada yang menyapa atau mengajaknya bermain. Jika anak Anda termasuk pada tipe ini, hal yang perlu Anda lakukan adalah membiasakannya untuk bertemu dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya dan terus memotivasinya.

Pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi dan kemampuan untuk bersosialisasi, tinggal bagaimana para orangtua dan orang-orang yang dekat dengan anak berupaya untuk mengasahnya. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa hal sederhana berikut:

  • Sesering mungkin anak diajak berkomunikasi, misalnya ketika ia sedang menangis atau marah-marah; tanyakan apa yang membuatnya marah, kemudian diarahkan supaya sang anak mencari solusinya.
  • Melatih anak untuk peka terhadap lingkungannya, misalnya ketika temannya marah kepadanya, anak diajarkan untuk menghadapinya dengan tenang, lalu menanyakan masalahnya dan mau meminta maaf jika ia yang bersalah.
  • Hendaknya setiap orangtua menghindari memanjakan anak secara berlebihan, karena hal ini akan menjadikannya kurang tangguh ketika ia ditimpa dengan berbagai masalah.

 

Berikut ini adalah beberapa tips untuk membangun kemampuan anak bersosialisasi :

  • Ajaklah anak saat ada pertemuan dengan tetangga di sekitar rumah. Suasana ini akan membuat anak terbiasa dengan keramaian dan membantunya untuk berinteraksi dengan orang-orang.
  • Ajak anak Anda dalam melaksanakan tugas-tugas rumah. Seperti mengelap jendela, atau menyapu halaman. Hal ini akan mengajarkannya untuk bertanggungjawab atas apa yang dikerjakannya dan juga menumbuhkan kepedulian sosial.
  • Biasakan anak untuk menyapa orang dan mengucapkan salam yang ditemuinya, baik teman sebayanya ataupun orang dewasa. Hal ini akan mengajarkannya kepekaan sosial padanya.
  • Menjenguk bila ada temannya yang sakit. Hal ini akan membuatnya lebih berempati pada teman-temannya dan juga orang disekelilingnya.
  • Menghadiri acara yang diadakan oleh temannya ataupun tetangga sekitar, seperti pesta ulang tahun atau syukuran. Acara seperti ini akan menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk saling berinteraksi satu sama lain dan saling mengenal lebih jauh.
  • Mengajaknya untuk menginap di rumah saudara atau kakek nenek. Hal ini membuat anak tahu bahwa lingkungannya tidak hanya di sekitar rumah saja. Lingkungannya akan sangat luas dan akan lebih banyak orang yang ia temui.