gb
Saturday, 31 October 2015

Kesalahan Dalam Melatih Kemandirian Anak

Septi Dwi Fajarwati, S.Pd – TK Islam Nurul Iman

 

Mendidik dan membina kemandirian anak merupakan tugas dan kewajiban orang tua, karena semua orang tua pasti mengharapkan anaknya akan menjadi anak yang mandiri. Sebenarnya apa sih arti mandiri itu?. Mandiri adalah suatu kondisi di mana seseorang dalam melakukan aktivitasnya tidak bergantung kepada orang lain. Tidak bergantung pada orang lain bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Maksudnya adalah dengan mandiri maka kegiatan tersebut masih mampu berjalan meskipun tanpa bantuan orang lain.

Mandiri merupakan hal yang harus ada dalam diri seseorang. Karena tidak mungkin kita akan terus bergantung pada orang lain. Oleh karena itu, seiring dengan bertambahnya usia anak, maka si anak harus mulai diajarkan tentang kemandirian. Melatih kemandirian ini merupakan bekal yang baik untuk anak karena kita sebagai orang tua tidak mungkin akan terus bersama anak.

Salah satu unsur penting dalam membangun dan mendidik kemandirian anak yaitu rasa percaya diri anak. Rasa percaya diri anak harus mulai tumbuh sejak anak masih kecil. Rasa percaya diri anak tidaklah muncul begitu saja. Akan tetapi rasa percaya diri anak merupakan rangkaian akumulasi dari berbagai aktivitas yang dilakukannya dengan semboyan “AKU BISA”. Semboyan ini tentunya berawal dari didikan orang tua dan stimulasi yang diberikan secara intensif.

Saat masih bayi, sangat wajar jika anak begitu tergantung pada ibunya. Maklum saja bayi belum bisa melakukan banyak hal, tapi seiring bertambahnya usia sudah seharusnya anak bertambah pula kemandiriannya sehingga tidak selalu bergantung pada orang lain.

Jika anak sudah masuk usia sekolah tapi belum bisa makan sendiri dan selalu berteriak-teriak agar semua kegiatannya dibantu orang lain bisa jadi karena kurang mandiri. Anak yang kurang mandiri mungkin saja dikarenakan ada kesalahan pada orang tuanya diantaranya sebagai berikut:

  1. Orang tua tidak percaya pada anak

Dalam melakukan segala kegiatan, anak-anak tentu saja belum semahir orang dewasa, tapi sering kali orang tua begitu takut dan khawatir ananknya dalam bahaya sehingga aneka larangan selalu dikeluarkan. Misalnya, anak baru lancar berjalan lebih jauh lalu orang tua sudah bilang “awas jatuh”, dan awas-awas yang lain sehingga anak jadi ragu dalam melakukannya. Anakpun menjadi kurang dipercaya oleh orang tua, dari pada berteriak-teriak yang membuat anak ragu, sebaiknya orang tua membawa anak ke area yang relatif tidak berbahaya untuk anaknya belajar berjalan. Tapi pastikan anak selalu dalam pengawasan, sehingga bisa diarahkan tanpa membatasi upaya eksplorasinya. Ketika anak sudah mulai masuk sekolah dan ingin menggunakan benda tajam, misalnya pisau untuk memotong buah, gunting untuk memotong kertas, juga sebaiknya berikan kepercayaan. Mengajari anak menggunakan pisau atau gunting bisa dimulai dengan menggunakan pisau dan gunting plastik. Seiring bertambah usia dan anak sudah biasa diajak komunikasi dengan baik dengan memberitahukan konsekuensinya jika menggunakan benda tajam, baru bisa diberikan pisau dan gunting betulan.

 

  1. Menyalahkan anak

“Salah kamu melipatnya, kalau gitu kan nggak rapi”, kalimat seperti itu mungkin sering dilontarkan orang tua kepada anaknya. Menyalahkan anak seperti itu bisa mematikan dan mematahkan kreativitas dan kemandirian anak. Padahal anak sudah berinisiatif membersihkan dan merapikan tempat tidurnya. Namun karena yang diterima bukan apresiasi tetapi kalimat yang justru membuat semangatnya drop, anak jadi malas melakukan kegiatan semacam itu lagi. Anak 3-4 tahun sudah bisa dilatih untuk mandiri, dari hal-hal yang simple misalnya membereskan mainannya. Jangan sampai orang tua mengeluarkan kata-kata seperti “ah kamu nih, salah kalau gitu…” hal seperti ini malah membuat anak jadi tidak percaya diri dan cenderung tidak mau melakukan hal itu lagi.

Agar kegiatan melatih kemandirian anak berjalan dengan baik, sebaiknya kita ikut melakukannya bersama anak. Misalnya membereskan mainannya, beri tahu anak mainan yaang sudah selesai dimainkan harus dimasukkan ke tempatnya kembali, informasikan kepada anak tempat mana yang tempat mainan. Jika anak melakukan apa yang kita arahkan dengan baik jangan lupa untuk memberikannya kata-kata yang memotivasinya seperti, “wah kamu hebat yaa bisa merapikannya dengan baik”. Selanjutnya anak akan terbiasa untuk merapikannya sendiri.

 

  1. Tidak sabar

Sering kali orang tua tidak sabar dengan proses belajar yang harus dilewati anak. Karena ingin cepat, orang tua cenderung mengambil alih sesuatu yang seharusnya dilakukan anak, sehingga anak tidak punya pilihan dan tidak punya kesempatan untuk mengambil keputusan. Misalnya karena anak lama saat membereskan mainan, ibunya langsung bilang “sini mama yang beresin” atau misal anaknya lama saat memakai sepatu “sini cepetan bunda saja deh yang pakaikan”.Inilah hal yang dapat membuat anak tidak berusaha untuk melakukan kegiatan sendiri dan membuat anak selalu bergantung pada ibunya atau orang lain.

 

  1. Enggan melatih kemandirian anak

Orang tua yang enggan melatih kemandirian anaknya dapat membuat anaknya jadi seorang penakut yang harus selalu dekat dengan orang tuanya dan cenderung tidak bisa melakukan aneka kegiatan sendiri. Alasan orang tua enggan melatih kemandirian anak biasanya karena rasa khawatir dan takut jika anak akan kenapa-kenapa, misalnya takut anaknya terluka atau hilang saat jalan-jalan sehingga orang tua enggan melepas dan membiarkan anaknya dari genggamannya. Padahal anak-anak dengan jiwa petualangannya justru ingin mengeksplorasi tempat baru dan hal-hal baru.

Sebagai contoh anak diajak oleh orang tuanya ke suatu tempat, sebelum itu harusnya orang tua bercerita dulu ke anaknya tempat yang akan dikunjungi seperti apa mungkin orang tua bisa memperlihatkan foto dan menggambarkan keadaan tempat tersebut. Kadang persiapan orang tua saat akan mengajak anaknya berpergian itu kurang sehingga anak mengadaptasi dengan caranya sendiri, sehingga di lokasi muncul perdebatan orang tua dan anak.

Kalau sudah diinfokan lokasi yang akan dikunjungi seperti apa, akan lebih mudah bagi orang tua dan anak. Bisa diberi tahu juga, karena masih kecil jadi harus selalu dipegang oleh orang tuanya. Tapi kalau sudah besar tidak gandengan lagi. Anak akan belajar dan mengingat, jadi bukannya dilarang untuk eksplorasi.