Antri1
Sunday, 5 July 2015

Pembelajaran Moral (budaya antri) pada Perkembangan Anak Usia Dini

oleh Fera Lestari, S.Pd

Moral berasal dari bahasa Latin “Moris” yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Antri merupakan salah satu perkembangan moral dari pembiasaan. Pembiasaan yaitu proses pembentukan sikap dan perilaku yang  dilakukan secara rutinitas atau berulang-ulang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral pada anak, ialah:

1. Lingkungan rumah terutama orang tua
2. Lingkungan sekitar rumah (tetangga)
3. Apabila anak sudah bersekolah maka dipengaruhi oleh lingkungan sekolah.

Dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak salah satunya budaya antri maka peranan orang tua sangatlah penting dan juga lingkungan sekolah sebagai pendukung. Proses pembiasaan berawal dari peniruan sehingga orang tua dan pendidik adalah model bagi anak.

Kegiatan antri atau budaya antri terlihat sebagai salah satu pembelajaran yang tidak terlalu penting atau sepele bagi kebanyakan orang padahal pembelajaran moral (mengantri) sangat banyak manfaatnya bagi anak usia dini.
Manfaat antri sebagai pembelajaran yaitu:

* Melatih emosi, dimana anak harus bersabar menunggu giliran
* Melatih kejujuran, dimana anak harus sesuai dengan urutannya tidak berbohong
* Melatih disiplin, dimana anak harus antri dan tepat waktu waktu apabila ingin cepat selesai
* Melatih kreativitas, dimana anak memikirkan cara kegiatan apa yang tidak membosankan ketika saat mengantri (di negara Jepang pada umumnya mereka akan membaca buku pada saat mengantri).
* Melatih memiliki rasa Malu, dimana jika anak menyerobot antrian dan mengambil hak orang lain.
* Melatih atau belajar hukum sebab akibat, dimana jika anak datang terlambat kansekuensinya mendapat barisan paling belakang.
* Dan masih banyak lagi

Antri2

Ada salah satu kutipan berita dari salah satu media sosial mengatakan seorang guru dari negara Australia yang mengatakan “kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika tetapi kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri ”.
Ketika ditanyakan alasannya, guru itu menjawab ”karena kita hanya perlu melatih secara intensif selama 3 bulan untuk bisa Matematika sedangkan kita perlu melatih anak hingga usia 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan mengingatkan pelajaran/manfaat berharga dari balik proses mengantri.”

Jadi kita sebagai orang tua dan pendidik marilah mengajarkan kepada anak-anak didik kita untuk membudayakan mengantri yang lebih mudah jika dididik mulai dari usia dini. Usia dini adalah usia golden age (masa keemasan), seperti pendapat Jean Piaget dimana anak seperti kertas putih atau tabularasa. Pembelajaran akan sangat maksimal didapatkan jika orang tua atau lingkungan rumah dan lingkungan sekolah terutama guru saling bekerja sama. Untuk itu marilah kita semua saling bekerja sama agar mendapatkan atau menghasilkan anak-anak yang sangat mengerti dan memahami untuk menjadikan suatu kebiasaan mengantri atau budaya antri dalam kehidupan sehari-hari.