main-page
Monday, 11 May 2015

Menumbuhkan Keberanian Anak dalam Mengemukakan Pendapat

Lusi Indarini, S.Pd

Belajar berbicara adalah proses yang panjang dan rumit. Sebelum anak siap untuk belajar, alam menyediakan bentuk komunikasi tertentu yang sifatnya sementara. Jika tidak, maka periode ketidakberdayaan anak akan berlangsung lama. Sebagian besar anak belum mengucapkan sepatah kata pun, sebelum mereka berumur 12 sampai 15 bulan. Komunikasi mereka tentunya masih dalam bentuk persiapan bicara. Mereka akan terus menggunakan bentuk komunikasi persiapan tersebut sebelum mereka menguasai keterampilan berbahasa yang cukup untuk menggunakan kata-kata yang berarti yang dapat di pahami, baik oleh anak itu sendiri maupun orang lain.

Selama tahun pertama dan tengah tahun kedua pasca lahir, sebelum anak mempelajari kata-kata yang cukup untuk digunakan sebagai bentuk komunikasi, mereka menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara ( Prespeech) yakni: tangisan; bunyi yang meledak yang segera berkembang menjadi celoteh; isyarat; dan ekspresi emosional. Dari keempat bentuk tersebut yang paling penting dalam perkembangan bicara adalah berceloteh karena akan menjadi dasar bagi bicara yang sesunguhnya.

Dalam hari-hari awal kehidupan pascalahir, sebagian besar suara bayi adalah menangis. Melalui tangisan  bayi memberi tahukan kebutuhnnya kepada seseorang untuk menghilangkan rasa : Lapar, pedih, lelah dan keadaan tubuh yang tidak menyenagkan lainnya dan untuk memenuhi keinginan untuk di perhatikan.

berani4

Bentuk komonikasi prabicara kedua disebut ”ocehan” (Cooing) atau ”celoteh” (babbling). Ocehan bunyi eksplosif awal disebabkan oleh perubahan gerakkan mekanisme suara. Bunyi itu sendiri sebagian besar bergantung pada bentuk lubang mulut dan caranya memodifikasi alur udara yang dikeluarkan dari paru-paru melewati pita suara. Ocehan  dapat dipandang sebagai kegiatan bermain yang menyenangkan bayi. Banyak bunyi ocehan awal tesebut akan lenyap, tetapi sebagian akan berkembang menjadi celoteh dan selanjutnya berubah menjadi kata-kata.

Celoteh, jumlah bunyi yang di keluarkan bayi meningkat secara perlahan. Selain itu, juga terjadi peningkatan kepastian ucapan berbagai bunyi. Pada mulanya, huruf hidup digabungkan  dengan huruf mati, seperti : ”da”,  ”ma”,  ”uh”, dan  ”na”. Kemudian, dengan praktek, pengendalian suara memungkinkan anak mengulangi bunyi tersebut dengan mengabungkannya seperti ”ma-ma-ma-ma-ma” atau ”uh-uh-uh-uh”. Karena meningkatnya kemampuan mengendalikan arus udara yang melewati pita suara, bayi dapat mengucapkan bunyi seperti yang diinginkan. Oleh karena itu, celoteh adalah bentuk senam suara, yang timbul secara spontan, tetapi tidak ada arti atau assosiasi yang sesungguhnya bagi bayi.

Ungkapan Emosional, adalah bentuk komunikasi prabicara yang keempat Ungkapan emosi dapat di ungkapkan melalui perubahan tubuh dan roman wajah. Emosi yang senang disertai dengan suara senang seperti dalam bentuk ocehan, bunyi ketawa kecil, dan tertawa, sedangkan emosi yang tidak senang disertai dengan tangisan dan rengekan.

 Cara Mengatasi Anak dalam Mengemukakan Pendapat

Tidak semua anak mampu mengemukakan pendapatnya dengan baik. Saat diminta berkomentar tentang sesuatu, ada anak yang bisa dengan lancar mengemukakan pendapatnya, tapi ada pula yang terbata-bata. Bahkan, bisa jadi ia hanya ajarkan satu dua kata kemudian diam seribu bahasa.

berani3

Padahal kemampuan mengeluarkan pendapat pada anak perlu ditumbuhkan karena mempengaruhi kemampuannya bersosialisasi. Namun, tak perlu terburu – buru memutuskan bahwa si anak tergolong sulit mengeluarkan pendapatnya.

Ada 4 faktor mengapa anak sulit mengemukakan pendapat:

1. Anak tergolong tipe introvert

Tipe Introvert memiliki karakter yang cenderung pendiam, sehingga tidak mudah mengeluarkan pendapatnya. Pada batas – batas tertentu sifat ini bisa di tolerir. Untuk memunculkan keberanian mengeluarkan pendapatnya gunakan pertanyaan terbuka dan lakukan 4 mata saja.

Justru jika seorang anak yang tergolong tipe ekstrovert tidak memiliki keberanian untuk  mengemukakan pendapat, maka ia patut mendapat perhatian. Asal tahu saja, anak dengan kepribadian ekstrovert selayaknya sangat terbuka dalam mengemukakan pendapat.

2. Anak mengalami kesulitan berbicara

Ada anak yang mengalami kesulitan berbicara seperti gagap, atau cadel sehingga si anak merasa malu bila ingin berbicara. Selanjutnya, si anak pun menjadi sulit mengemukakan pendapatnya.

3. Anak memikirkan akibat yang harus ditanggung.

Coba telaah kembali pertanyaan yang diajukan kepada si anak. Bisa jadi pertanyaan tersebut memiliki dampak yang tidak mengenakan baginya. Bila ya, berarti wajar anak tak mau mengemukakan pendapatnya, tapi kalau sepertinya tidak ada dampak yang mengkhawatirkan, orang tua hendaknya waspada. Bersiaplah untuk menstimulasinya.

4. Lingkungan baru atau tidak

Umumnya, di tengah lingkungan yang masih baru, anak kerap merasa malu-malu untuk mengemukakan pendapatnya. Hal ini akan berangsur teratasi jika ia sudah bisa beradaptasi dengan hal-hal baru di sekitarnya.

Bila Sulit Berpendapat

Ada keuntungan yang dapat di raih bila anak mampu atau terbiasa mengemukakan pendapatnya dengan baik. Salah satunya orang tua dapat melakukan evaluasi terhadap suatu kegiatan lewat pendapat yang dikemukan anak. Sebaliknya, bila anak tidak mampu mengemukakan pendapatnya dengan baik, berikut beberapa dampak yang mungkin timbul.  

berani1

  • Anak jadi pendiam atau tertekan

Bila anak tidak mampu mengeluarkan perasaannya, bisa jadi anak akan tertekan dan pendiam. Akibatnya bisa muncul dorongan untuk mengeluarkan perasaan yang tertekan itu dengan emosi yang jadinya tidak terkontrol. Bisa – bisa orang lain yang  jadi korban.

  • Anak tidak bisa menjadi katalis perubahan.

Oleh karena tidak mampu mengeluarkan pendapatnya dengan baik, otomatis anak tidak mampu meyakinkan orang lain. Akibatnya, kelak anak hanya jadi pengikut saja atau pendapatnya tenggelam entah  ke mana karena orang lain tidak meresponnya dengan baik. Ia juga tidak mampu menjadi pemimpin yang baik karena kemampuan komunikasinya terhambat.

  • Berkurangnya rasa percaya diri

Kurangnya rasa percaya diri bisa membuat anak menjadi serba canggung atau tidak berani melakukan sesuatu. Bila terjadi terus – menerus, hal ini dapat mempengaruhi kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungan. Hubungannya dengan orang orang yang berada di sekitarnya terasa garing dan dangkal.

Agar anak mau bicara

Ada beberapa langkah perbaikan yang dapat dilakukan bila anak kita tergolong sulit mengemukakan pendapat :

  • Orang tua hendaknya melakukan evaluasi diri dan menerima kesalahan itu serta bersedia melakukan perubahan
  • Komunikasikan kepada anak dan sampaikan permintaan maaf. Sampaikan harapan – harapan yang diinginkan dan sebaiknya posisikan diri Anda jangan di atas anak. Hargai dia sebagai seorang yang posisinya sejajar.
  • Hindari berbicara terus menerus sehinga anak tinggal mengucapkan ya atau tidak. Lihatlah emosinya, Menghadapi anak introvert jelas harus sabar. Gali perasannya dengan pertanyaan terbuka. Jangan sesekali mencela atau mengkritik, membandingkan, atau menasehati.
  • Jadikan rumah untuk tempat sharing.
  • Gunakan permainan bila anak sulit membuka komunikasi atau dengan pantomin yang bisa memancing tanggapan positifnya.

berani5

Jadi untuk menumbuhkan keberanian mengemukakan pendapat, diperlukan pola asuh yang tepat dari orang tua. Berikan rasa aman saat anak mengeluarkan pendapat tanpa rasa aman, anak jadi enggan.

Jika tiap keluarga telah membudayakan kebiasaan mengemukakan pendapat kepada setiap anggotanya, niscaya anak mampu mengemukakan dengan baik pendapatnya. Namun, rumah saja tak cukup bila tidak didukung lingkungan sekolah dan masyarakat karena ketiganya saling berkaitan.